JOGJABROADCAST — JAPFA kembali menggelar JAPFA For Kids Awards sebagai mekanisme evaluasi keberlanjutan program gizi seimbang di sekolah-sekolah dampingan. Program ini tidak hanya bertujuan menurunkan angka malnutrisi, tetapi juga memastikan sistem di sekolah mampu meneruskan praktik gizi seimbang secara mandiri.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Dr. Dra. Evi Martha, M.Kes, mengatakan proses penjurian dilakukan melalui dua tahapan, daring dan kunjungan lapangan.
“Saat ini kami dari FKM UI mendapatkan kesempatan menjadi juri JAPFA For Kids Awards. Setelah seleksi pemaparan program secara online, hari ini kami melakukan kunjungan lapang di tiga sekolah di Kabupaten Grobogan dan Demak,” ujarnya.
Menurut Evi Martha, sekolah yang dikunjungi dinilai berdasarkan implementasi program gizi seimbang, mulai dari kegiatan wajib hingga inisiatif tambahan yang digagas sekolah.
“Sekolah diharapkan melakukan intervensi untuk memastikan konsumsi gizi seimbang, misalnya menyediakan jajanan sehat atau memberikan edukasi kepada pedagang sekitar sekolah,” jelasnya.
Ia mencontohkan inisiatif di MI Darun Na’im yang menghadirkan market day melibatkan orang tua untuk berjualan makanan sehat.
Selain penilaian program sekolah, JAPFA For Kids Awards juga menggelar berbagai kompetisi seperti lomba poster, lomba menulis untuk guru, dan cerdas cermat khusus pendidik.
“Dari FKM UI kami diminta melakukan penjurian artikel guru dan program sekolah,” tambah Evi.
Sekolah Didorong Mandiri Lanjutkan Program
Keberlanjutan menjadi indikator utama Japan For Kids Awards. Program tidak harus terus berjalan dengan format yang sama, namun yang terpenting adalah sekolah mampu mempertahankan praktik baik secara mandiri setelah pendampingan JAPFA berakhir.
Hal tersebut dibenarkan oleh Fifi, guru MI Darun Na’im, yang kini menjalankan program tahap kedua secara mandiri.
“Program tahap kedua tahun 2025 kami jalankan sendiri. Tentu berbeda dibanding saat masih didampingi fasilitator JAPFA,” ujarnya.
Namun, hasilnya tetap positif.
“Alhamdulillah dari awalnya 18 anak malnutrisi, kini hanya tersisa tiga anak, itupun dengan masalah kesehatan bawaan,” jelasnya.
Fifi menambahkan bahwa sekolah menjaga keberlanjutan melalui kegiatan yang bersinergi dengan program JAPFA.
“Kami punya Jumat Bersih untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Untuk Hari Sehat JAPFA, kami integrasikan dengan Sabtu Sehat—mulai dari senam gizi seimbang, edukasi gizi, hingga kebiasaan membawa bekal,” terangnya.
Menurutnya, integrasi ini membuat praktik baik tetap berjalan meski tanpa pendampingan intensif.
Investasi Sosial yang Terus Menghasilkan Dampak
VP–Head of Social Investment JAPFA, R. Artsanti Alif, menegaskan bahwa JAPFA For Kids dirancang sebagai program investasi sosial jangka panjang.
“JAPFA menyebut program ini sebagai investasi sosial bukan tanpa alasan. Seperti investasi yang diharapkan memberi keuntungan terus-menerus, program ini pun diharapkan terus memanen perubahan bahkan setelah intervensi selesai,” ujarnya.
Artsanti menambahkan keberlanjutan sudah dipetakan sejak tahap desain program.
“Sejak awal kami memetakan aktor-aktor serta dukungan dari sekolah yang berpotensi melanjutkan inisiatif perubahan selama program,” pungkasnya.
Melalui JAPFA For Kids Awards, perusahaan menilai sejauh mana perubahan tersebut bertahan dan berkembang. Dengan pendekatan sistematis ini, JAPFA berharap sekolah-sekolah dampingan mampu menjadi pusat praktik gizi seimbang yang berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi kesehatan anak-anak. (edy)