Diaspora 7 menit membaca

Selayang Pandang 2025, Teras Malioboro “SATU RUMAH TERAS MALIOBORO: RUANG BERSAMA WISATA DAN PRODUK LOKAL JOGJA”

Selayang Pandang 2025, Teras Malioboro “SATU RUMAH TERAS MALIOBORO: RUANG BERSAMA WISATA DAN PRODUK LOKAL JOGJA”
Teras Malioboro

JOGJABROADCAST-YOGYAKARTA-Malioboro telah lama dikenal sebagai jantung kota Yogyakarta dan bagian integral dari sumbu filosofi, tempat yang menampung beragam aktivitas ekonomi. Kawasan ini menjadi pusat perdagangan yang dinamis, mulai dari toko atau ruko, pasar tradisional, mall, hingga pedagang kaki lima. Dengan penetapan Malioboro sebagai bagian dari warisan budaya dunia oleh UNESCO, kawasan ini tampil dengan wajah baru yang mengutamakan kenyamanan pengunjung, sekaligus membina para pedagang kaki lima agar tetap dapat mengembangkan usaha secara tertata dan berkelanjutan. 

Dalam konteks penataan dan revitalisasi tersebut, Teras Malioboro hadir sebagai bentuk nyata penataan kembali kawasan sumbu filosofi Malioboro. Para pelaku UMKM direlokasi ke tempat yang layak dan representatif, tersentral dalam satu kawasan yang kini menjadi pusat oleh-oleh khas Yogyakarta. Teras Malioboro lahir sebagai bagian dari upaya tata kelola kota yang berkelanjutan dan berpihak pada ekonomi rakyat, sekaligus menjembatani kebutuhan pelestarian kawasan heritage dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat.

Sepanjang tahun 2025, Teras Malioboro menempuh babak baru dengan dilaksanakannya relokasi tahap II Teras Malioboro 2. Proses penggabungan tenant ke kawasan Ketandan dan Beskalan menghadirkan tantangan tersendiri, baik dari sisi penataan kawasan maupun adaptasi tenant. Namun, justru dari tantangan inilah Teras Malioboro berhasil memposisikan diri bukan hanya sebagai wadah relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kini telah menjadi Tenant Teras Malioboro secara utuh, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang mandiri dan pusat belanja produk khas Yogyakarta. 

Teras Malioboro kini memiliki dua nafas baru melalui pengembangan kawasan Beskalan dan Ketandan, yang masing-masing dilengkapi fasilitas pendukung untuk memberikan pelayanan optimal bagi pengunjung maupun tenant. Teras Beskalan menghadirkan area parkir yang luas serta amphitheater sebagai ruang pertunjukan dan kegiatan seni, sementara Teras Ketandan menonjolkan ornamen-ornamen pecinan yang unik dan menghadirkan nuansa arsitektur Tionghoa yang khas. Kawasan ini juga menyimpan nilai sejarah dengan ditemukannya petilasan rumah Tan Jin Sing, sehingga Teras Ketandan sekaligus menjadi daya tarik edukatif, estetik untuk fotografi, dan menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih menarik bagi pengunjung.

Dengan fasilitas yang lengkap, Teras Malioboro bertransformasi menjadi salah satu pusat aktivitas budaya berkelanjutan. Melalui sinergi dan kolaborasi, kawasan ini menghidupkan nilai-nilai budaya lokal lewat berbagai event budaya, baik berskala lokal maupun regional. Kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terlihat pada penyelenggaraan Pertunjukan Selasa Wage bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, serta Kangen Dolan by Pasar Kangen. Kegiatan ini juga meluas hingga tingkat antarprovinsi, salah satunya melalui Calendar of Event (CoE) bersama Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan, menjadikan Teras Malioboro sebagai ruang budaya yang hidup sekaligus sarana promosi budaya Yogyakarta secara lebih luas.

Event-event yang berlangsung sepanjang tahun 2025 terbukti menjadi pendorong utama traffic pengunjung Teras Malioboro, yang berhasil mencapai 5.296.328 orang. Beberapa event besar, seperti Jogja Menyapa, mampu mendatangkan 39.398 pengunjung hanya dalam 3 hari, sementara Milad Hizbul Wathan menarik hingga 43.176 pengunjung dalam periode yang sama. Selain meningkatkan kunjungan, event-event tersebut juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi para tenant, dengan dukungan perbelanjaan mencapai Rp60.000.000,00 pada kegiatan Sore Menyapa BPD DIY dan Milad Hizbul Wathan, baik di kawasan Beskalan maupun Ketandan.
 

Keberhasilan berbagai kegiatan tersebut senantiasa didukung oleh ketersediaan fasilitas serta manajemen operasional yang tepat. Sepanjang tahun 2025, operasional rutin mencakup pemeliharaan gedung, peningkatan kualitas kebersihan dan keamanan, serta penambahan berbagai fasilitas pendukung guna meningkatkan kenyamanan pengunjung dan tenant. Teras Malioboro juga memberikan kesempatan kepada tenant untuk melakukan pemasangan listrik mandiri guna memenuhi kebutuhan suplai listrik di area tertentu. Seluruh upaya tersebut mengantarkan Teras Malioboro meraih Sertifikasi ISO 9001:2015 dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai wujud komitmen terhadap penerapan standar mutu layanan yang konsisten, profesional, dan berkelanjutan.

Di sisi lain, dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan dan kapasitas tenant, Teras Malioboro sepanjang tahun 2025 menyelenggarakan enam kegiatan pelatihan dengan beragam tema, antara lain pelatihan strategi akses permodalan untuk pengembangan ukm, pelatihan keuangan jangka panjang, serta pelatihan lain yang relevan dengan kebutuhan tenant. Pada tahun 2025, Teras Malioboro memfasilitasi pelatihan bagi 240 tenant dari 824 tenant yang sebelumnya belum pernah mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas. Dengan demikian, hingga tahun 2025 jumlah tenant yang telah mengikuti pelatihan mencapai 1.380 tenant atau sekitar 70,26% dari total keseluruhan tenant.

Selain pelatihan, Teras Malioboro juga aktif mendukung legalitas usaha tenant melalui fasilitasi penerbitan 1.365 Nomor Induk Berusaha (NIB).   Penerbitan NIB ini menjadi komitmen Pemda terhadap legalitas usaha para tenant di Teras Malioboro.  Selain itu, kepedulian terhadap kesehatan tenant juga diwujudkan melalui penyelenggaraan 11 kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) yang diikuti oleh 1.200 tenant. Seluruh upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, kesehatan, dan kompetensi tenant secara menyeluruh dan berkelanjutan. 
 

Melalui berbagai layanan dan program yang diberikan, Teras Malioboro terus menunjukkan perkembangan yang positif dalam mendukung aktivitas ekonomi sekaligus meningkatkan kepuasan para tenant. Sepanjang periode Januari–Desember 2025, total omzet tenant Teras Malioboro secara keseluruhan setelah penggabungan lokasi Eks Indra, Ketandan, dan Beskalan mencapai Rp78.3 milyar. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan sebesar Rp56.3 milyar, atau sekitar lebih banyak dua kali lipat dibandingkan dengan omzet tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp22.400.000.000 pada saat itu masih berasal dari aktivitas di Teras Eks Indra saja.   Dengan demikian, tren pertumbuhan omzet yang terus meningkat dari tahun ke tahun tersebut mencerminkan upaya berkelanjutan pengelolaan Teras Malioboro dalam mendorong peningkatan kinerja usaha sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonomi para pelaku UMKM.


Selain itu, tingkat kepuasan tenant terhadap pengelolaan Teras Malioboro mencapai 89,8%, berdasarkan hasil survei kepuasan yang dilakukan melalui pengambilan sampel responden. Capaian ini menunjukkan bahwa upaya pelayanan dan pengelolaan yang dilaksanakan telah berjalan secara efektif serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja ekonomi dan kepuasan para pelaku usaha di Teras Malioboro. Selaras dengan hal tersebut, tingkat kepuasan masyarakat yang diukur melalui Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) juga menunjukkan hasil yang positif, dengan nilai mencapai 88,35%, atau mengalami peningkatan sebesar 4,25% dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan dan apresiasi publik terhadap Teras Malioboro.

Menghadapi tantangan tahun 2026, Teras Malioboro terus menegaskan perannya sebagai pusat literasi budaya Yogyakarta. Teras Malioboro tidak sekadar menjadi pusat belanja, tetapi juga hadir sebagai destinasi yang memungkinkan pengunjung merasakan dan menikmati kekayaan budaya Yogyakarta dalam satu ruang. Melalui inovasi pelayanan, penguatan kapasitas tenant, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya, Teras Malioboro berkomitmen menjadi jantung budaya yang hidup, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat maupun wisatawan. 

Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Agus Mulyono, S.P., M.T., menyampaikan bahwa Teras Malioboro pada tahun 2026 akan menghadapi tantangan sekaligus peluang strategis dalam menguatkan perannya sebagai literasi budaya Yogyakarta. Menurut beliau, Teras Malioboro tidak hanya berfungsi sebagai pusat belanja oleh-oleh, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan pengalaman budaya, di mana pengunjung dapat memahami dan menikmati kekayaan budaya Yogyakarta.  “Tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara kegiatan ekonomi, penguatan kapasitas tenant, dan penyelenggaraan kegiatan budaya, sehingga Teras Malioboro terus bertransformasi menjadi ruang publik yang menampilkan nilai-nilai budaya Yogyakarta secara berkelanjutan,” ungkap Agus Mulyono.

Menambahkan hal tersebut, Wisnu Hermawan, S.P., M.T., Kepala Balai Layanan Usaha Terpadu KUMKM DIY, menyampaikan bahwa berbagai capaian Teras Malioboro hingga saat ini tidak terlepas dari sinergi dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk peran aktif serta partisipasi para tenant. Ia menegaskan bahwa tahun 2025 menjadi langkah awal yang penting dalam pengembangan Teras Malioboro ke depan. “Ke depan, kami berkomitmen untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada tenant, khususnya di area-area yang masih perlu ditingkatkan kapasitasnya, baik melalui program pelatihan maupun dukungan pemasaran. Peningkatan omzet diharapkan juga bisa merata pada wilayah belakang hingga lantai atas, melalui sejumlah inovasi dan pendekatan transformasi terhdapa tatakelola produk yang dipajang.  Melalui upaya tersebut, kami berharap seluruh tenant dapat memperoleh pemerataan dan tumbuh bersama dalam meningkatkan kapasitas usaha serta kualitas layanan” ujarnya.

Dengan fondasi yang semakin kuat pada tahun 2025 dan strategi yang terencana, termasuk berbagai inovasi, penguatan kapasitas tenant, serta penyelenggaraan kegiatan budaya yang berkelanjutan, Teras Malioboro optimistis melangkah sebagai ruang publik ikonik Yogyakarta. Teras Malioboro menegaskan identitasnya sebagai destinasi budaya sekaligus pusat aktivitas ekonomi yang mandiri dan kreatif, tempat bertemunya wisata, budaya, dan ekonomi kerakyatan dalam satu kawasan yang hidup, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.(*)