Ekonomi 3 menit membaca

Perempuan JAPFA Nusantara Dorong Gerakan Ekonomi Hijau Lewat Pengolahan Sampah Berkelanjutan

Perempuan JAPFA Nusantara Dorong Gerakan Ekonomi Hijau Lewat Pengolahan Sampah Berkelanjutan
Komunitas Perempuan JAPFA Nusantara menunjukkan kiprahnya dalam mendorong gerakan ekonomi hijau.

JOGJABROADCAST — Komunitas Perempuan JAPFA Nusantara terus memperkuat kiprahnya dalam pemberdayaan perempuan sekaligus mendorong tumbuhnya gerakan ekonomi hijau (green economy) di berbagai daerah. Berawal dari pembelajaran bahwa banyak program investasi sosial JAPFA digerakkan oleh perempuan, komunitas ini kini menjadi motor pengembangan usaha ramah lingkungan melalui serangkaian pelatihan berbasis pengelolaan sampah.

 

VP–Head of Social Investment JAPFA, R. Artsanti Alif, mengatakan Perempuan JAPFA Nusantara telah aktif beberapa bulan terakhir dengan fokus pada pengembangan produk ramah lingkungan.

“Gerakan Perempuan JAPFA Nusantara sudah bergerak dalam beberapa bulan terakhir untuk mengembangkan kegiatan usaha ramah lingkungan,” ujarnya.

 

Menurutnya, JAPFA menggelar pelatihan ecoenzym, pembuatan sabun organik, hingga teknik ecoprint bagi perempuan binaan Departemen Social Investment di Cirebon dan Sragen melalui program Bank Sampah.

Artsanti menjelaskan bahwa seluruh pelatihan dirancang untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam mengelola sampah rumah tangga sehingga memiliki nilai tambah.

 

“Produksi ecoenzym diwajibkan memanfaatkan sepenuhnya limbah dapur. Dari dapur kecil kita bisa memberikan kontribusi untuk merawat bumi,” jelas Artsanti. “Sedangkan ecoprint menjadi upaya waste to art. Limbah daun dapat dimanfaatkan sebagai motif dengan teknik ecoprint,” tambahnya.

 

Gerakan di Jawa Tengah ditandai dengan pelatihan ecoprint lanjutan untuk perempuan di sekitar Pabrik Pakan JAPFA Sragen. Salah satu peserta, Sulasih, anggota Satelit Bank Sampah Kecik, mengaku bahwa kegiatan ini melengkapi perjalanan pembelajaran mereka dalam pengelolaan sampah.

 

“Sebelumnya kami bergabung dengan Bank Sampah Kecik untuk mengelola sampah anorganik agar memiliki nilai ekonomi lebih,” ungkapnya. “Dua minggu lalu kami juga belajar membuat ecoenzym dan sabun organik. Semua ini seperti satu rangkaian utuh untuk mengelola lingkungan,” imbuhnya.

 

Dalam pelatihan ecoenzym di Pabrik Pakan JAPFA Sragen, para peserta diajarkan proses fermentasi limbah organik seperti sisa buah dan sayuran untuk menghasilkan cairan serbaguna ramah lingkungan.

 

“Ecoenzym dapat digunakan untuk mengurangi bau di air sekolah, mengurangi nyamuk, mengepel lantai, hingga membersihkan meja makan. Banyak manfaat hanya dari sisa buah dan sayur dapur,” jelas Sulasih.

 

Ia menambahkan bahwa dirinya kini mengikuti pelatihan ecoprint metode steam setelah sebelumnya mempelajari teknik pounding. Menurutnya, pengetahuan yang diberikan JAPFA akan membantu perempuan memaksimalkan pengelolaan sampah anorganik maupun organik.

“Dengan kemampuan yang kami miliki sekarang, kami tidak hanya mendapat manfaat ekonomi, tetapi juga bisa lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar,” tegasnya.

 

Inisiatif Perempuan JAPFA Nusantara tidak hanya menghadirkan peluang ekonomi baru bagi perempuan, tetapi juga menjadi langkah nyata JAPFA dalam mitigasi perubahan iklim melalui pengelolaan sampah berkelanjutan. Program ini merefleksikan pendekatan pemberdayaan yang tidak hanya menumbuhkan keterampilan, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap bumi.

 

Dengan sinergi perempuan di berbagai daerah, gerakan ini diharapkan mampu memperluas praktik ekonomi hijau sekaligus menciptakan dampak sosial yang lebih inklusif bagi komunitas lokal. (edy)