Pendidikan 2 menit membaca

SPPG Margosari1 Pengasih Kulonprogo Fajar Lukman Andika : Relawan SPPG Ujung Tombak Pemenuhan Gizi, Kerja Senyap Berdampak Nyata

  SPPG  Margosari1 Pengasih  Kulonprogo Fajar Lukman  Andika :   Relawan SPPG Ujung Tombak Pemenuhan Gizi, Kerja Senyap  Berdampak Nyata
SPPG Margosari 1Pengasih Kulonprogo /ist

JOGJABROADCAST-YOGYAKARTA – Peran relawan dalam program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kian mendapat perhatian. Di balik tersajinya makanan sehat dan bergizi bagi masyarakat, ada kerja senyap para relawan yang menjadi ujung tombak pelayanan di lapangan.

 

Hal tersebut disampaikan Kepala SPPG Margosari 1 Pengasih Kulonprogo, Catria Fajar Lukman Andika .S.Psi, saat ditemui di sela pelatihan pemadam kebakaran bagi relawan SPPG, Jumat (20/2/2026).

 

Menurut Lukman, relawan tidak hanya bertugas mendistribusikan makanan. Mereka terlibat aktif sejak tahap awal, mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, pengemasan, hingga memastikan makanan yang dibagikan memenuhi standar kebersihan dan kandungan gizi yang telah ditetapkan.

 

“Komitmen relawan menjadi kunci dalam menjaga kualitas program pemenuhan gizi agar tepat sasaran dan berdampak nyata,” ujar Lukman.

 

Ia menjelaskan, dalam praktiknya para relawan mengedepankan prinsip higienitas dan keamanan pangan. Proses memasak dilakukan sesuai standar, mulai dari pemilahan bahan segar, pencucian yang benar, hingga teknik pengolahan yang mempertahankan nilai gizi. Menu yang disajikan pun dirancang seimbang, mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

 

Koordinasi yang solid juga menjadi kekuatan tim SPPG. Komunikasi intensif antar divisi, mulai dari perencanaan menu oleh ahli gizi hingga teknis pengolahan di dapur, terus dilakukan agar proses penyediaan makanan berjalan optimal. Selain itu, diskusi dan evaluasi rutin digelar untuk meningkatkan kapasitas relawan. Bahkan, SPPG turut menghadirkan berbagai instansi terkait guna memberikan pelatihan tambahan demi peningkatan kualitas layanan.

 

Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Margosari 1 Pengasih Kulonprogo, Andrea Aulia S.Giz, menegaskan bahwa penentuan menu dilakukan melalui berbagai pertimbangan matang.

 

“Yang jelas, kami harus mampu menyajikan menu yang sehat, aman, dan lezat. Dalam istilah lain, healthy food, safe food, dan tasty food, sehingga tujuan program MBG dapat tercapai,” ujar Andrea.

 

Ia menambahkan, SPPG berkolaborasi dengan tenaga kesehatan, ahli gizi, serta pemerintah setempat untuk memastikan kualitas dan kuantitas makanan sesuai kebutuhan penerima manfaat, baik anak-anak sekolah, ibu hamil, maupun kelompok rentan lainnya. Dengan pendekatan tersebut, program tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan benar-benar menjawab persoalan gizi di masyarakat.(dwi)