Diaspora 3 menit membaca

Anak Muda Solo Dikepung Overthinking, Cukupkah Suplemen Herbal Menyelamatkan Tidur Mereka?

Anak Muda Solo Dikepung Overthinking, Cukupkah Suplemen Herbal Menyelamatkan Tidur Mereka?
Jundi Sukarna, M.Pd., M.M. [Ilustrasi foto diolah menggunakan Teknologi AI]

Oleh: Jundi Sukarna, M.Pd., M.M.*

SOLO adalah kota kreativitas: kafe, ruang kolaborasi, dan kampus menjadi panggung bagi generasi muda yang ingin membangun mimpi. Di siang hari mereka tampak energik, mengerjakan proyek dan berdiskusi. Namun ketika lampu padam dan layar digeser ke samping, banyak yang menghadapi musuh tak kasat mata: pikiran yang tak mau tenang. Begadang bukan lagi ritual produktivitas, ia berubah menjadi arena pertempuran melawan overthinking yang menguras tenaga dan menggerus kualitas hidup.
 

Overthinking bukan sekadar “baper”. Data menunjukkan kecenderungan pola pikir berulang yang mengarah pada kecemasan sangat umum di kalangan muda. Survei nasional dan studi kesehatan mental remaja menunjukkan satu hal jelas: gangguan cemas dan gangguan tidur meningkat, terutama pada mereka yang belum mapan secara pekerjaan. Saat angka insomnia dan gangguan tidur meroket, sulit menafikan bahwa masalah ini lebih dari sekadar kebiasaan buruk, ini sinyal beban mental yang wajib ditangani.


Respons anak muda Solo terhadap masalah ini beragam dan sering memilih jalan pintas. Banyak yang mencari solusi cepat: aplikasi white noise, self-help online, hingga suplemen herbal yang bisa dibeli dengan sekali klik. Pilihan ini wajar, siapa yang tidak ingin tidur nyenyak setelah hari panjang? Tetapi realitasnya, hanya sebagian kecil yang mengakses layanan profesional seperti psikolog atau konselor. Mengandalkan saran di media sosial atau curhat pada teman kadang memberi rasa lega sementara, namun tidak menggantikan penanganan yang tepat.
 

Sebelum menaruh harap pada kapsul, perhatikan dasar-dasarnya: sleep hygiene. Kebiasaan sederhana, seperti jam tidur konsisten, mematikan layar satu jam sebelum tidur, mengurangi kafein sore hari, serta menata ruang tidur menjadi nyaman dan redup, ternyata memberi dampak signifikan. Ini bukan saran moral yang menyudutkan; ini pendekatan praktis yang membantu tubuh dan otak kembali ke ritme alami mereka.
 

Di sisi lain, suplemen herbal seperti valerian, chamomile, lavender, passionflower, dan ashwagandha memang memiliki penelitian yang menunjukkan efek relaksasi ringan. Namun bukti menunjukkan respons individu bervariasi, dosis belum seragam, dan manfaatnya tidak otomatis menggantikan intervensi medis untuk insomnia berat atau gangguan mental. Penting pula memastikan produk terstandar dan memiliki izin edar, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila sedang minum obat lain atau memiliki kondisi medis.
 

Jadi, bolehkah anak muda Solo memanfaatkan suplemen herbal? Jawabannya: boleh, tapi sebagai pendamping, bukan penyelesai tunggal. Perspektif yang lebih sehat adalah menggabungkan tiga elemen: akses konseling yang mudah dan bebas stigma; perbaikan kebiasaan tidur; serta penggunaan suplemen herbal yang aman dan teruji bila diperlukan. Ketiganya saling menguatkan: konseling membantu mengurai akar kecemasan, sleep hygiene memperbaiki fondasi tidur, dan herbal dapat memberi bantuan sementara pada fase transisi.
 

Sebagai pelaku usaha di bidang herbal sekaligus pegiat kesehatan masyarakat, saya percaya produk herbal idealnya hadir sebagai mitra gaya hidup sehat, bukan obat penutup untuk perilaku yang merusak. Kita perlu menggeser paradigma: dari mencari pelarian instan menuju membangun ekosistem yang mendukung kesehatan mental anak muda, seperti sekolah dan kampus membuka layanan konseling ramah, komunitas menciptakan ruang aman untuk berbagi, dan masyarakat menghapus stigma terhadap permintaan bantuan.
 

Perang melawan overthinking tidak dimenangkan oleh rak obat. Ia dimenangkan di kebiasaan sehari-hari, di keberanian meminta bantuan, dan di keberlangsungan dukungan sosial. Suplemen herbal mungkin menutup hari dengan kelembutan, tetapi tidur yang pulas lahir dari kebiasaan dan komunitas yang mendukung. Untuk itu, mari anak muda Solo bersepakat: daripada menghabiskan malam untuk overthinking, lebih baik “over-acting” dalam merawat diri dan orang di sekitar kita.

Malam ini, sebelum menelan kapsul apa pun, cobalah: matikan layar, tarik napas dalam-dalam, dan tanyakan pada diri sendiri apa yang benar-benar ingin kamu tenangkan. Jika jawabanmu butuh bantuan, carilah orang yang tepat untuk mendengarkan. (*)
 

*Pegiat kesehatan masyarakat Solo Raya, dan pendiri Arbain Jaya Investama