Seni Budaya 3 menit membaca

Minggu Legi Pakualaman Meriahkan Hari Jamu Nasional, Ratusan Warga Padati Alun-alun Sewandanan

Minggu Legi Pakualaman Meriahkan Hari Jamu Nasional, Ratusan Warga Padati Alun-alun Sewandanan
Pakualaman Meriahkan Hari Jamu Nasional dengan berbagai kegiatan budaya/ist

JOGJABROADCAST-YOGYAKARTA – Minggu 24 Mei 2026-suasana Kagungan Dalem Alun-alun Sewandanan Pura Pakualaman tampak semarak pada perhelatan Fasilitasi Atraksi Wisata Minggu Legi yang digelar oleh Dinas Pariwisata DIY. Memasuki pertengahan tahun 2026, kegiatan ini hadir dengan format baru yang memadukan wisata budaya, kesehatan, hiburan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam satu ruang yang hidup dan penuh antusiasme.

 

Pemilihan hari Minggu Legi bukan tanpa alasan. Dalam tradisi penanggalan Jawa, pasaran Legi memiliki makna filosofis tentang keteguhan dalam menjalani keprihatinan yang pada akhirnya melahirkan kebijaksanaan dan kematangan batin. Nilai-nilai tersebut menjadi semangat yang mewarnai seluruh rangkaian kegiatan di kawasan bersejarah Pakualaman tersebut.

 

Bertepatan dengan momentum menjelang Hari Jamu Nasional yang diperingati setiap 27 Mei, penyelenggara mengangkat tema hidup sehat berbasis herbal dan budaya kesehatan tradisional Indonesia. Sejak pagi hari, ratusan warga memadati lokasi untuk mengikuti kegiatan “Senam Sehat Berhadiah” yang didukung penuh oleh Naturindo.

 

Kegiatan diawali dengan senam massal yang dipandu instruktur energik Silvy Bogian dan Zin Ebhie, sementara suasana semakin hangat berkat kehadiran pembawa acara Poersegi Panjang dan Lisa Raminten yang mampu menghidupkan suasana. Selain berolahraga, masyarakat juga mendapatkan kesempatan menikmati jamu gratis serta layanan pemeriksaan kesehatan yang tersedia sepanjang acara.

 

Antusiasme peserta terlihat hingga akhir kegiatan, terutama saat pengundian puluhan doorprize menarik. Berbagai hadiah mulai dari kebutuhan pokok hingga produk elektronik menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta yang hadir.

 

Tak hanya menawarkan kegiatan kesehatan, acara ini juga menghadirkan hiburan musik yang memanjakan pengunjung. Penampilan Be Tiga Band, Flawless Music, dan BM-X Band sukses menghidupkan suasana sepanjang siang hingga sore hari.

 

Nuansa budaya semakin terasa dengan hadirnya pertunjukan seni rakyat khas Pakualaman. Kelompok Jathilan “Bala Mudho Satrio” dari Klitren, Gondokusuman, Kota Yogyakarta menampilkan atraksi Jathilan Putri dan Gedruk yang memukau para penonton. Pertunjukan yang berlangsung hingga menjelang Maghrib tersebut menjadi bukti komitmen dalam menjaga dan melestarikan seni tradisional Yogyakarta agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

 

Selain menikmati berbagai pertunjukan, pengunjung juga dimanjakan dengan beragam sajian kuliner tradisional, kafe kopi dan jamu, serta produk-produk UMKM lokal. Kehadiran pelaku usaha tersebut tidak hanya menambah daya tarik acara, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha kecil di Yogyakarta.

 

Melalui program Fasilitasi Atraksi Wisata ini, Dinas Pariwisata DIY bersama Naturindo berupaya menghidupkan kembali budaya konsumsi jamu sebagai warisan budaya bangsa yang tetap relevan di era modern. Masyarakat juga dapat mengenal dan membeli berbagai produk herbal unggulan yang dipamerkan selama kegiatan berlangsung.

 

Koordinator acara dari Pakualaman, Donny Surya Megananda, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menjalani pola hidup sehat yang berpijak pada kearifan lokal.

 

"Dengan semangat Hari Jamu Nasional, kegiatan Minggu Legi di Pakualaman mengajak masyarakat untuk terus menjaga kesehatan melalui olahraga, konsumsi herbal berkualitas, dan pola hidup sehat demi terciptanya masyarakat yang sehat, aktif, dan produktif," ujarnya.

 

Lebih dari sekadar hiburan, Minggu Legi Pakualaman menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan budaya, kesehatan, pariwisata, dan ekonomi rakyat. Perpaduan nilai tradisi dan gaya hidup sehat tersebut menjadikan acara ini sebagai salah satu atraksi wisata yang menarik sekaligus memperkuat identitas budaya Yogyakarta. (*)