Sospol 4 menit membaca

Nobar ‘Pesta Babi’ di Griya Jati Rasa: Menegaskan Tanah Papua Tidak Kosong dan Mendesak Transformasi Ekonomi Hijau Berbasis Masyarakat

Nobar  ‘Pesta Babi’ di Griya Jati Rasa: Menegaskan Tanah Papua Tidak Kosong dan Mendesak Transformasi Ekonomi Hijau Berbasis Masyarakat
Nobar Pesta babi /ist

JOGJABROADCAST-YOGYAKARTA, 18 Mei 2026 – Pendopo Pondok Tali Rasa dimana Yayasan Griya Jati Rasa berumah, tadi malam dipadati dengan puluhan anak muda dan aktivis lingkungan dalam acara Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Kritis film dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita". Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta ini terselenggara atas kerja sama erat antara Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI Yogyakarta) dan Yayasan Griya Jati Rasa.  Ketua Kophi Yogyakarta, Rifka Agnes dalam sambutan pembukaan mengatakan sangat menghargai Keputusan Yayasan Griya Jati Rasa untuk menerima kegiatan nobar sementara sudah empat tempat yang menolak kegiatan Kophi Yogyakarta menonton bareng film Pesta Babi. Sebagai tanggapan terhadap sambutan mb Agnes, ibu Farsijana Adeney-Risakotta, Ph.D, selaku Direktur Yayasan Griya Jati Rasa menjelaskan bahwa Pondok Tali Rasa merupakan oase, areal perdamaian yang sudah digunakan sejak masa pergerakan reformasi tahun 1998, dan sampai sekarang tidak berubah. Jadi kegiatan ini mendapat perlindungan khusus dari Yayasan Griya Jati Rasa.

Acara ini menghadirkan narasumber utama kakak Gispa Ferdinanda, alumni mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM) asal Papua, yang saat ini bergabung dengan Pusaka, yaitu suatu LSM di Jakarta untuk memperjuangkan hak-hak adat Masyarakat Papua.  Alasan Kophi Yogyakarta mengundang kakak Gispa karena ia dikenal aktif dalam menyuarakan hak-hak masyarakat adat, termasuk keterlibatannya mendampingi mama-mama Papua—salah satunya Mama Maui—dalam aksi demonstrasi di depan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta untuk menegaskan bahwa tanah Papua memiliki pemilik sah dan bukan tanah kosong (terra nullius).

Komitmen Ekologis dan Keadilan Ruang

Dalam sambutan pembukanya, Direktur Yayasan Griya Jati Rasa, Farsijana Adeney-Risakotta, menegaskan posisi lembaganya sebagai wadah pemberdayaan kreativitas bangsa demi terwujudnya keadilan dan perdamaian. Farsijana menyoroti pentingnya menjaga hutan primer Papua sebagai benteng krusial mitigasi perubahan iklim global. Ia menambahkan bahwa Yayasan Griya Jati Rasa secara khusus telah merancang kegiatan pemberdayaan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis umat dengan STT GKI I.S. Kijne di Jayapura, Papua dengan tujuan melatih pengetahuan asuh pohon dan hitung karbon kepada masyarakat adat di tanah Papua sehingga mereka bisa mempertahankan tanah dan hutannya yang merupakan sumber kehidupan dan kebijakan adat. Ditambahkan: “ Kita tidak bisa bicara tentang kelestarian lingkungan jika hak hidup, ruang budaya, dan kedaulatan masyarakat adat Papua terus dikorbankan demi syahwat industri skala besar berskala nasional.

Gispa Ferdinanda: "Tanah Papua Bukan Tanah Kosong"

Menyambung pemutaran film, kakak Gispa Ferdinanda memaparkan realitas pahit di balik judul "Pesta Babi". Bagi peradaban suku-suku di Papua, babi dan hutan adalah simbol martabat, kedaulatan, dan subsistensi pangan lokal. Namun, ekspansi korporasi sawit dan proyek food estate global telah mengalihfungsikan hutan adat secara paksa.

Gispa menceritakan pengalamannya saat turun ke jalan mendampingi Mama Maui di Jakarta. Langkah tersebut diambil karena jalur komunikasi formal kerap buntu di hadapan birokrasi.

"Kami datang jauh-jauh ke Kementerian LHK untuk mengetuk kesadaran negara. Kami tegaskan: tanah Papua itu tidak kosong! Di sana ada manusia, ada marga, ada sejarah, dan ada hukum adat yang melekat pada setiap jengkal tanah dan pepohonan. Merampas hutan mereka sama saja dengan melakukan pemusnahan kultural secara perlahan," tegas Gispa di hadapan 50 peserta diskusi.

Catatan Kritis dan Rekomendasi Bersama

Diskusi interaktif ini menghasilkan beberapa poin sikap kritis bersama yang ditekankan oleh dan Yayasan Griya Jati Rasa dan Kophi Yogyakarta adalah pertama, menghentikan Narasi Terra Nullius: Pemerintah dan investor harus berhenti memperlakukan Papua sebagai wilayah kosong tak berpenghuni yang bebas dieksploitasi atas nama pembangunan nasional. KeduaMenolak model mitigasi krisis iklim semu (greenwashing) yang justru dilakukan dengan membabat hutan alam primer di mana keragaman hayati terpelihara demi digantikan oleh perkebunan monokultur industri berbasis bioetanol tebu dan biodiesel kelapa sawit. Ketiga, mendorong Ekonomi Hijau Kerakyatan: Menuntut transformasi ekonomi yang menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama pengelola hutan, bukan memosisikan mereka sebagai buruh murah di tanah ulayatnya sendiri. Keempat, menjaga ruang akademis dan demokrasi: Mengecam segala bentuk intimidasi, pelarangan, dan represi terhadap pemutaran film dokumenter ilmiah seperti "Pesta Babi" di berbagai daerah di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, generasi muda di Yogyakarta diajak untuk memperluas solidaritas, memperdalam riset ekologis, dan mengawal isu lingkungan dengan perspektif pembelaan terhadap hak kemanusiaan yang adil dan beradab (Farsijana).