JOGJABROADCAST - Di balik gemerlap layar gawai yang setiap hari dipenuhi konten hiburan, ada fenomena menarik yang patut dicermati: anak-anak Indonesia mulai menjadikan media sosial sebagai panggung untuk menyuarakan keresahan sosial mereka.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan pergeseran cara generasi muda memandang tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Salah satu buktinya datang dari Denpasar, Bali, lewat kisah seorang siswi SMP bernama Caitlyn Muni Chandra.
Persoalan sampah memang telah lama menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pulau Dewata. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat Bali memproduksi ribuan ton sampah setiap harinya, sebagian besar berasal dari kawasan wisata dan permukiman padat penduduk. Di tengah persoalan struktural sebesar itu, hadirnya suara-suara kecil dari kalangan pelajar justru menjadi secercah optimisme baru, membuktikan bahwa kepedulian lingkungan tidak mengenal batasan usia.
Caitlyn, pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Taman Rama Denpasar, memilih jalur kreatif untuk menyampaikan pesannya. Ia memproduksi video pendek berjudul "Suara Hati Anak Bali" sebagai bentuk kegelisahannya terhadap kondisi sampah di kampung halamannya.
Yang membuat karya ini terasa istimewa, Caitlyn tidak berjuang sendirian. Ia mengajak sang adik, Calysto Millone Chandra yang baru berusia 6 tahun, untuk turut tampil dalam video tersebut, menghadirkan pesan bahwa kepedulian lingkungan sejatinya bisa ditanamkan sejak dalam lingkup keluarga.
Karya kolaboratif dua bersaudara ini kemudian diikutsertakan dalam Lomba Konten Kreatif "Bali Bersih Sampah", sebuah kompetisi yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Provinsi Bali sebagai rangkaian peringatan Bulan Bung Karno 2026.
Format lomba berbasis video dipilih panitia bukan tanpa alasan. Riset We Are Social menunjukkan generasi muda Indonesia kini menjadi salah satu kontributor konten digital paling aktif di berbagai platform media sosial, sehingga pendekatan ini dinilai paling efektif untuk menjangkau dan melibatkan kalangan pelajar secara langsung.
Proses pendaftaran dan pengumpulan karya berlangsung sejak 12 hingga 21 Juni 2026, diikuti oleh 82 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas anak muda, hingga masyarakat umum. Persaingan lintas usia dan lintas profesi ini menjadikan setiap karya yang lolos seleksi memiliki bobot tersendiri. Pengumuman pemenang dilakukan pada 23 Juni 2026, dan dari ratusan karya yang masuk, video garapan Caitlyn berhasil menembus posisi Juara 2, sebuah pencapaian yang tidak mudah diraih mengingat ketatnya persaingan tersebut. Kerja keras itu terbayar lunas dengan gelar Juara 2 yang berhasil diraihnya, lengkap dengan hadiah berupa piala, piagam, dan beasiswa pendidikan.
Perjalanan menuju gelar juara itu sendiri tidak berlangsung instan. Caitlyn harus melewati tahapan panjang, mulai dari pencarian ide, penyusunan skrip cerita, hingga penentuan lokasi dan waktu pengambilan gambar yang tepat. Kendala teknis turut mewarnai proses produksi, termasuk pengaturan jadwal syuting yang harus disesuaikan dengan kegiatan sekolah, serta sejumlah pengulangan adegan demi memperoleh hasil terbaik. Namun, semua proses tersebut justru menjadi pembelajaran berharga tentang konsistensi dan kerja keras bagi pelajar seusianya.
"Yang pasti perasaan saya senang sekali bisa terpilih menjadi Juara 2 dalam lomba Konten Kreatif. Saya tidak menyangka akhirnya menjadi juara, mengingat pesertanya dari berbagai kalangan dan usia. Atas prestasi ini, tak lupa saya mengucapkan terima kasih buat semua yang selalu mendukung Caitlyn hingga saat ini. Semoga kalian semua sehat dan selalu bahagia," ujar Caitlyn dengan raut wajah bahagia.
Momen penyerahan hadiah bagi para pemenang dirangkaikan dengan acara penutupan resmi Bulan Bung Karno 2026 yang digelar pada Minggu, 28 Juni 2026, bertempat di Bali Beach Convention Centre, Sanur, Bali. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia ke-5, Ibu Megawati Soekarnoputri, beserta putra keduanya, Prananda Prabowo, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital, didampingi sang istri.
Kehadiran Gubernur Bali Wayan Koster bersama istri, serta Wakil Gubernur Bali Giri Prasta beserta jajarannya, turut menegaskan besarnya perhatian para pemangku kebijakan terhadap isu lingkungan dan kreativitas generasi muda Bali.
"Semoga video ini bisa mengajak lebih banyak orang untuk menjaga kebersihan Bali. Terutama pulau yang kita cintai dan kita banggakan bersama, agar terhindar dari tumpukan sampah," harap Caitlyn menutup pernyataannya dengan nada optimis.
Kisah Caitlyn dan adiknya menjadi cermin bahwa solusi atas persoalan lingkungan tidak melulu harus datang dari kebijakan besar atau program berskala nasional. Terkadang, perubahan justru bermula dari ruang-ruang kecil seperti ruang kelas, ruang keluarga, hingga layar gawai yang digunakan untuk menyuarakan kepedulian.
Di tangan generasi muda seperti mereka, harapan akan Bali yang lebih bersih bukan lagi sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang terus tumbuh dan menginspirasi lebih banyak anak muda Indonesia untuk berani bersuara melalui karya. (edy)