Ekonomi 4 menit membaca

Jogja Coffee Week #6 Siap Digelar, 195 Booth dan Kompetisi Kopi Terbesar se-DIY Bakal Ramaikan JEC

Jogja Coffee Week #6 Siap Digelar, 195 Booth dan Kompetisi Kopi Terbesar se-DIY Bakal Ramaikan JEC
Beberapa narasumber menyampaikan paparan Jogja Coffee Week #6 dalam konferensi pers.

JOGJABROADCAST, Yogyakarta - Aroma kopi khas Nusantara akan kembali menyeruak di udara Yogyakarta. Selama tiga hari, mulai 4 hingga 6 September 2026, denyut industri kopi Tanah Air berpindah sementara ke Jogja Expo Center (JEC), tempat para petani, roaster, barista, dan pencinta kopi dari berbagai penjuru negeri berkumpul dalam satu panggung besar bernama Jogja Coffee Week (JCW) #6.

Mengusung tema "Inclusive Vibes", gelaran tahunan ini dirancang bukan sekadar sebagai etalase dagang, melainkan ruang temu lintas generasi dan latar belakang yang disatukan oleh secangkir kopi. Sebanyak 195 booth dipastikan terisi penuh, menghubungkan rantai industri kopi dari hulu ke hilir. Skala acara ini sejalan dengan posisi Indonesia sebagai kekuatan besar kopi dunia, bahkan negara ini tercatat sebagai produsen kopi terbesar keempat secara global dengan kontribusi sekitar 7 persen dari total produksi kopi dunia pada tahun pemasaran 2025/2026. Sehingga momentum JCW #6 terasa semakin relevan sebagai etalase daya saing kopi Nusantara di mata dunia.

Seremoni pembukaan JCW #6 dipastikan berlangsung istimewa dengan kehadiran sejumlah tokoh penting. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Menteri PPN/Kepala Bappenas sekaligus Ketua Dewan Penasehat Dewan Kopi Indonesia (DEKOPI) Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., serta Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Novyan Bakrie direncanakan hadir langsung membuka rangkaian acara.

Momentum tersebut juga akan dimanfaatkan untuk meluncurkan Sekolah Kopi Nusantara, sebuah inisiatif strategis untuk regenerasi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor perkopian nasional. Peluncuran ini menjadi jawaban atas tantangan yang tengah dihadapi industri kopi domestik, di mana produksi nasional sempat mengalami tekanan akibat perubahan iklim dan kenaikan biaya produksi dalam beberapa tahun terakhir. Rangkaian pembukaan turut dimeriahkan pentas seni Wayang Kulit bertajuk Inclusive Vibes, pemutaran film berbasis kecerdasan buatan bertema kopi, serta JAWARA Coffee Competition dengan kategori Green Bean, Brewers, Cup Taster, Latte Art, dan Mixology Competition.

Ketua Organizing Committee Jogja Coffee Week 2026, Rahadi Saptata Abra, mengungkapkan bahwa seluruh persiapan telah memasuki tahap akhir menjelang hari pelaksanaan.

"Sekarang kita sudah masuk hari minus tujuh. Mohon dukungan teman-teman media supaya acara yang menjadi kebanggaan Jogja ini berjalan lancar, sukses, dan memberikan manfaat bagi semuanya," ujar Abra disela konferensi pers.

Antusiasme publik terhadap JCW #6 tergambar jelas dari penuhnya seluruh kuota booth dan kompetisi jauh sebelum hari pelaksanaan. Pameran yang buka setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB dengan tiket masuk Rp30.000 ini juga merambah skala internasional, dengan partisipasi 13 brand asal Jepang serta kehadiran ASEAN Coffee Federation (ACF) yang menggelar Board of Directors Meeting sekaligus Indonesia Coffee Business Summit (ICBS) 2026.

Keunikan utama JCW #6 tetap terletak pada statusnya sebagai satu-satunya ajang di Indonesia yang mengintegrasikan pameran dagang dengan kompetisi green bean secara langsung. Para petani dan pelaku usaha kopi dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua Pegunungan, akan bersaing memperebutkan Piala Raja Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk kategori Best of Liberica, Best of Arabica, dan Best of Robusta, dengan kuota maksimal 150 biji kopi kualitas terbaik yang telah terisi penuh.

Abra menjelaskan, proses penjurian Green Bean Competition memasuki tahap krusial di Loman Park Hotel Yogyakarta pada 31 Agustus hingga 2 September, dengan melibatkan partisipasi publik secara terbuka. "Besok di Loman Park Hotel selain ada penilaian, kita juga mengadakan public cupping di taman hotel. Gratis, langsung datang saja. Ada ratusan biji kopi yang kami sajikan dan bisa dicicipi langsung oleh pengunjung," jelasnya.

Biji-biji kopi dengan nilai cupping score di atas 8,5 akan melenggang ke tahap lelang hybrid pada hari terakhir acara. "Untuk tahun ini kami sudah menyiapkan aplikasi lelang khusus secara hybrid, baik offline maupun online. Yang hadir offline kelebihannya bisa mencicipi langsung, sementara pembeli online bisa memantau data hasil penilaian juri dan score resminya," terang Abra.

Selain kompetisi green bean, JCW #6 juga menghadirkan Fun Roasting Coffee Competition (FRCC) by Tan N Black bagi para roaster untuk menguji kemampuan sekaligus memperluas jejaring. Suasana semakin hidup lewat Coffeeverse Talkshow & Coffeetainment yang menghadirkan empat sesi talkshow serta penampilan musisi Panji Sakti, Jumat Gombrong (Jumbrong), dan Diskoplo.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin DIY, Robby Kusumaharta, menekankan bahwa kopi memiliki kekuatan besar untuk menghadirkan pengalaman autentik bagi wisatawan. Menurutnya, Yogyakarta memiliki modal kuat untuk mewujudkan hal itu, mulai dari destinasi yang beragam, kekayaan budaya yang mengakar, komunitas kreatif anak muda yang dinamis, hingga rangkaian event pariwisata yang terus berkembang setiap tahun.

Dengan segala persiapan matang dan gaung yang telah terbangun, JCW #6 diproyeksikan bukan hanya menjadi ajang bisnis, tetapi juga panggung yang mengukuhkan Yogyakarta sebagai salah satu episentrum kopi Indonesia. (dwi)